Rabu, 18 Maret 2015

Teruntuk Calon Pendampingku

Engkau adalah seorang pria yang sebelumnya tidak aku kenal. Tapi suatu hari nanti, engkaulah yang akan menjadi salah satu jalan bagiku untuk bisa berada di Jannah-Nya. 

Prioritas paling utamaku adalah Allah SWT, Rasulullah SAW, dan Orang tuaku (Ibu dan Ayah). Allah SWT dan Rasullullah SAW yang paling aku sayangi. 

Ibuku. Ia melahirkan, meyusui, dan mengajarkanku banyak hal tanpa pernah aku mendengar ia berkata "lelah". Saat aku jatuh, ia membantuku, mengangkat jiwa dan ragaku. Keikhlasannya menjadi ibu rumah tangga yang baik, dipilihnya dibanding materi yang bisa ia dapatkan diluar sana hanya demi mengajarkan dan memberikan ilmu dan sesuatu yang terbaik bagiku.

Ayahku. Lelaki yang berjuang, bertanggung jawab menafkahi istri dan anak-anaknya dengan tulus ikhlas. Aku bahkan tidak dapat membalas tetes keringatnya dengan apapun. Salah satu kebahagiaannya yaitu melihat senyum di keluarga kecilnya.

Ada saat dimana posisi itu akan berubah. Setelah akad nikah nanti engkau lebih bertanggung jawab atasku, bahkan posisimu berada diatas kedua orang tuaku.


Banyak pertanyaan yang ada dibenakku. Dapatkah engkau menyayangiku tulus dan sepanjang masa seperti kedua orang tuaku menyayangiku? Sabarkah engkau menghadapi ego dan manjaku? Maukah engkau menerima kekurangan dan kelebihanku? Mampukah engkau melindungiku seperti yang mereka lakukan kepadaku selama ini?

Sungguh sebenarnya ini bukanlah bentuk keraguanku kepadamu. Hanya saja bagian dari kehawatiranku dan harapan agar engkau mampu menyayangi, menjaga, dan membimbingku ke jalan yang di ridhoi Allah SWT. Mengingat posisimu yang cukup tinggi dihidupku ini, semoga engkau tidak mengajakku kearah yang sesat. Aku berharap engkau merupakan jawaban dari do'a-do'aku dan juga do'a kedua orang tuaku yang dipanjatkan dari aku kecil hingga saat ini. Aku menyayangi kedua orang tuaku, semoga begitu pula dirimu. In Sya Allah aku juga akan menyayangi kedua orang tuamu seperti orang tuaku sendiri.



Aku berdo'a kepada Allah agar menjaga dan melindungi orang tua kita. Semoga kita dijadikan keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah dan dikaruniai keturunan yang sholeh sholehah. Aamiin ya Robbal Alamiin.

Selasa, 10 Februari 2015

Dengerin Murotal Al-Qur'an Yuk

Assalamu'alaikum wr.wb.


Kita sering kali online sambil mendengarkan musik, entah itu lagu bahasa Indonesia, Inggris atau mungkin bahasa lain. Kalau ada liriknya yang kurang paham, langsung deh kita search di google. Bener kan? :)

Bagi yang muslim khususnya yang sering online, kenapa kita tidak mendengarkan Murotal saja. Semakin sering mendengarkan, In Sya ALLAH akan semakin hafal dan cinta akan ayat-ayat-Nya yang Agung. Ada beberapa situs muslim yang menyediakan aplikasi untuk mendengarkan Murotal Al-Qur'an, salah satu yang sering saya dengar yaitu dari : www.tvquran.com

Disana kita dapat memilih suara dari Qori yang diinginkan. Favorit saya Mishary Alafasi dan Saad Al-Ghamidi. Kemudian klik salah satu nama Qori, lanjutkan dengan memilih surat Al Qur'an yang ingin didengarkan. Saran saya, ada baiknya kita mendengarkan surat yang dirasa sudah cukup dihafal untuk memperkuat ingatan kita akan surat tersebut. Kalau ada ayat yang belum hafal?
Don't worry, kita bisa search juga kok. Masih sama, lewat google.hehe..


Saya sendiri lebih suka menyimak dari http://quran.com/ karena hurufnya jelas dan ada terjemahan Shahih Internasional dalam bahasa Inggris. Sahih (صَحِيْح) yaitu kata Arab yang berarti Asli atau Otentik.

Manage waktu sebaik mungkin ya. Jangan sampai mengganggu pekerjaan juga. In Sya ALLAH tetap dapat kebaikan dunia dan Akhirat. Aamiin.


Wassalamu'alaikum wr.wb.

Rabu, 04 Februari 2015

Keanehan Tulisan ASMAUL HUSNA Pasca Banjir

Bismillahirrahmaanirrahiin.
Ini pengalaman pribadi yang terjadi di rumah beberapa tahun yang lalu, awal Februari 2007. Waktu itu banjir datang. Awalnya aku dan keluarga senang, karna air banjir yang masuk hanya semata kaki dan airnya bening. "Alhamdulillah..."

Tapi beberapa jam kemudian, airnya berubah menjadi berwarna coklat dan kemudian naik hingga lebih dari 1 meter. Yang aku ingat saat itu hujan tidak terlalu deras. Entah air ini datangnya dari mana. Lalu kami bergegas mengungsi karna kebetulan pada saat itu rumah orangtuaku ini hanya satu lantai. Alhamdulillah ada rumah tingkat yang kosong di dekat rumah. Aku, keluargaku, dan tetangga lain juga mengungsi disana.

Banjir menggenang sekitar tiga hari. Alhamdulillah, di hari keempat, banjir sudah benar-benar surut. Perumahan yang sebelumnya kering dan bersih ini berubah menjadi lembab, dingin, bau, dan kotor. Saat masuk rumah, berbeda sekali rasanya. Kami lalu membersihkan bagian-bagian rumah perlahan lahan karena pada saat itu keadaan rumah juga gelap.

Aku masuk ke kamar tidur. Kamar ini cukup terang karena ada jendela cukup besar yang menghadap ke luar rumah. Aku ingin melepas tempelan kertas Asmaul Husna yang aku tempel di dinding. Asmaul Husna itu dulu diketik oleh aku dan kakakku di dua lembar kertas A4. Tulisan "Asmaul Husna" kami buat berwarna, sementara isinya kami buat berwarna hitam

Aku sedikit terkejut melihat beberapa keanehan pada kertas ini, kertasnya tidak sobek karena terendam air. Masih tetap tertempel rapi. Tulisan "Asmaul Husna" dengan tinta warna sedikit agak memudar. Tapi isi Asmaul Husna yang aku buat per-nomor tidak luntur sama sekali. Terpikir dibenakku, mengapa tulisan bagian atas yang tidak terkena air malah luntur, padahal yang bawahnya (yang terendam air) baik-baik saja.

Yang membuatku semakin tercengang, ada tulisan kecil seperti menggunakan pensil yang tertulis dengan sendirinya. Tulisan itu seakan mengapung naik dan tidak ingin terkena oleh air banjir yang kotor. Aku merinding, entah bagaimana Asmaul Husna yang bagian bawah bisa tertulis ulang persis diatas batas air yang menggenang. Tidak mungkin ada seorangpun yang menulis itu pada saat banjir karena rumahku kosong. Walaupun hanya tulisan yang diketik bahkan tidak dengan huruf Arab, ALLAH tetap menjaganya. Subhanallah...

Silahkan lihat dan perhatikan foto ini ya. Tanpa ada edit dan rekayasa.